Jumat, 25 Desember 2015

7 Alasan Kuat Untuk Tidak Menjadi Otaku

Anak-anak Indonesia saat ini sedang latah dalam mengikuti trend sosial. Ya, ini tidak bisa dihindari karena memang merupakan metamorfosa kehidupan. Begitu cepatnya perkembangan teknologi, laju informasi yang tak terbendung, kebebasan yang kebablasan, dan belum siapnya fondasi mental pendidikan kita membuat "latah" menjadi sesuatu yang terlihat lumrah.

Keberadaan gadget dan internet yang begitu canggih, membuat generasi saat ini menitipkan otak mereka ke gadget dan google. Males mikir, males mengingat dikit-dikit pake gadget. Ngitung 6 x 7 aja pake kalkulator. Nyari ibukota Amerika saja harus ketik di Google. Parah...

Karena otak mereka sudah dititipin di gadget dan google, mereka jadi tidak terbiasa berpikir. Pokoknya yang ditemukan di Google itu yang benar. Makanya begitu mereka menemukan informasi yang bersumbu pada satu sudut pandang seorang blogger yang Otaku akut, mereka juga tertular jadi Otaku akut lantaran mereka tidak mencoba mencari sumber info yang lain.

Di Jepang sendiri, keberadaan Otaku sebenarnya sudah membuat "bencana". Naiknya jumlah otaku membuat produktifitas hidup menurun, keakraban sosial berkurang, dan jumlah pertumbuhan penduduk Jepang mengkhawatirkan. 

Tapi di Indonesia, karena akses info yang sepihak saja, membuat "gelar" Otaku seperti sesuatu yang membanggakan. Padahal di negara asalnya sebutan Otaku justru terpinggirkan. Janganlah bangga menyebut diri kalian seorang Otaku. Cukup jadi Fans Anime, atau Fans Manga, atau Fans Video Game. Gitu aja!!! Berikut adalah 7 Alasan Kuat Untuk Tidak Menjadi Otaku:

Gue nggak mau duit hasil kerja keras gue cuma abis buat beli barang-barang beginian.
Mending buat nraktir makan keluarga.
Gue nggak mau jilatin gambar di layar monitor.
Ada sesuatu yang lebih penting yang butuh gue jilat.
Gue nggak mau bercinta dengan guling.
Ada wanita cantik di luar sana yang butuh gue nikahin.
Gue nggak pingin sujud menyembah gambar.
Gue punya Tuhan yang lebih pantas untuk gue bersujud
Gue nggak mau seharian ngurung diri di kamar liat anime atau maen game
Gue butuh ngumpul ma teman, gokil-gokilan,  jalan-jalan, ngecengin cewek.
Gue nggak mau ribut sama temen cuma gara-gara
menyebut Pantsu itu sama dengan celana dalam.
Gue nggak mau nge-date sama pacar khayalan.
Mending makan di SS bareng Alia.
So, saran gue sih. Cukup jadi fans anime, atau fans manga, atau fans video game. Nggak usah lah sok-sokan jadi Otaku. Kasihan orang tua lu!!!

Anak-anak Indonesia saat ini sedang latah dalam mengikuti trend sosial. Ya, ini tidak bisa dihindari karena memang merupakan metamorfosa kehidupan. Begitu cepatnya perkembangan teknologi, laju informasi yang tak terbendung, kebebasan yang kebablasan, dan belum siapnya fondasi mental pendidikan kita membuat "latah" menjadi sesuatu yang terlihat lumrah.

Keberadaan gadget dan internet yang begitu canggih, membuat generasi saat ini menitipkan otak mereka ke gadget dan google. Males mikir, males mengingat dikit-dikit pake gadget. Ngitung 6 x 7 aja pake kalkulator. Nyari ibukota Amerika saja harus ketik di Google. Parah...

Karena otak mereka sudah dititipin di gadget dan google, mereka jadi tidak terbiasa berpikir. Pokoknya yang ditemukan di Google itu yang benar. Makanya begitu mereka menemukan informasi yang bersumbu pada satu sudut pandang seorang blogger yang Otaku akut, mereka juga tertular jadi Otaku akut lantaran mereka tidak mencoba mencari sumber info yang lain.

Di Jepang sendiri, keberadaan Otaku sebenarnya sudah membuat "bencana". Naiknya jumlah otaku membuat produktifitas hidup menurun, keakraban sosial berkurang, dan jumlah pertumbuhan penduduk Jepang mengkhawatirkan. 

Tapi di Indonesia, karena akses info yang sepihak saja, membuat "gelar" Otaku seperti sesuatu yang membanggakan. Padahal di negara asalnya sebutan Otaku justru terpinggirkan. Janganlah bangga menyebut diri kalian seorang Otaku. Cukup jadi Fans Anime, atau Fans Manga, atau Fans Video Game. Gitu aja!!! Berikut adalah 7 Alasan Kuat Untuk Tidak Menjadi Otaku:

Gue nggak mau duit hasil kerja keras gue cuma abis buat beli barang-barang beginian.
Mending buat nraktir makan keluarga.
Gue nggak mau jilatin gambar di layar monitor.
Ada sesuatu yang lebih penting yang butuh gue jilat.
Gue nggak mau bercinta dengan guling.
Ada wanita cantik di luar sana yang butuh gue nikahin.
Gue nggak pingin sujud menyembah gambar.
Gue punya Tuhan yang lebih pantas untuk gue bersujud
Gue nggak mau seharian ngurung diri di kamar liat anime atau maen game
Gue butuh ngumpul ma teman, gokil-gokilan,  jalan-jalan, ngecengin cewek.
Gue nggak mau ribut sama temen cuma gara-gara
menyebut Pantsu itu sama dengan celana dalam.
Gue nggak mau nge-date sama pacar khayalan.
Mending makan di SS bareng Alia.
So, saran gue sih. Cukup jadi fans anime, atau fans manga, atau fans video game. Nggak usah lah sok-sokan jadi Otaku. Kasihan orang tua lu!!!

Anak-anak Indonesia saat ini sedang latah dalam mengikuti trend sosial. Ya, ini tidak bisa dihindari karena memang merupakan metamorfosa kehidupan. Begitu cepatnya perkembangan teknologi, laju informasi yang tak terbendung, kebebasan yang kebablasan, dan belum siapnya fondasi mental pendidikan kita membuat "latah" menjadi sesuatu yang terlihat lumrah.

Keberadaan gadget dan internet yang begitu canggih, membuat generasi saat ini menitipkan otak mereka ke gadget dan google. Males mikir, males mengingat dikit-dikit pake gadget. Ngitung 6 x 7 aja pake kalkulator. Nyari ibukota Amerika saja harus ketik di Google. Parah...

Karena otak mereka sudah dititipin di gadget dan google, mereka jadi tidak terbiasa berpikir. Pokoknya yang ditemukan di Google itu yang benar. Makanya begitu mereka menemukan informasi yang bersumbu pada satu sudut pandang seorang blogger yang Otaku akut, mereka juga tertular jadi Otaku akut lantaran mereka tidak mencoba mencari sumber info yang lain.

Di Jepang sendiri, keberadaan Otaku sebenarnya sudah membuat "bencana". Naiknya jumlah otaku membuat produktifitas hidup menurun, keakraban sosial berkurang, dan jumlah pertumbuhan penduduk Jepang mengkhawatirkan. 

Tapi di Indonesia, karena akses info yang sepihak saja, membuat "gelar" Otaku seperti sesuatu yang membanggakan. Padahal di negara asalnya sebutan Otaku justru terpinggirkan. Janganlah bangga menyebut diri kalian seorang Otaku. Cukup jadi Fans Anime, atau Fans Manga, atau Fans Video Game. Gitu aja!!! Berikut adalah 7 Alasan Kuat Untuk Tidak Menjadi Otaku:

Gue nggak mau duit hasil kerja keras gue cuma abis buat beli barang-barang beginian.
Mending buat nraktir makan keluarga.
Gue nggak mau jilatin gambar di layar monitor.
Ada sesuatu yang lebih penting yang butuh gue jilat.
Gue nggak mau bercinta dengan guling.
Ada wanita cantik di luar sana yang butuh gue nikahin.
Gue nggak pingin sujud menyembah gambar.
Gue punya Tuhan yang lebih pantas untuk gue bersujud
Gue nggak mau seharian ngurung diri di kamar liat anime atau maen game
Gue butuh ngumpul ma teman, gokil-gokilan,  jalan-jalan, ngecengin cewek.
Gue nggak mau ribut sama temen cuma gara-gara
menyebut Pantsu itu sama dengan celana dalam.
Gue nggak mau nge-date sama pacar khayalan.
Mending makan di SS bareng Alia.
So, saran gue sih. Cukup jadi fans anime, atau fans manga, atau fans video game. Nggak usah lah sok-sokan jadi Otaku. Kasihan orang tua lu!!!

Anak-anak Indonesia saat ini sedang latah dalam mengikuti trend sosial. Ya, ini tidak bisa dihindari karena memang merupakan metamorfosa kehidupan. Begitu cepatnya perkembangan teknologi, laju informasi yang tak terbendung, kebebasan yang kebablasan, dan belum siapnya fondasi mental pendidikan kita membuat "latah" menjadi sesuatu yang terlihat lumrah.

Keberadaan gadget dan internet yang begitu canggih, membuat generasi saat ini menitipkan otak mereka ke gadget dan google. Males mikir, males mengingat dikit-dikit pake gadget. Ngitung 6 x 7 aja pake kalkulator. Nyari ibukota Amerika saja harus ketik di Google. Parah...

Karena otak mereka sudah dititipin di gadget dan google, mereka jadi tidak terbiasa berpikir. Pokoknya yang ditemukan di Google itu yang benar. Makanya begitu mereka menemukan informasi yang bersumbu pada satu sudut pandang seorang blogger yang Otaku akut, mereka juga tertular jadi Otaku akut lantaran mereka tidak mencoba mencari sumber info yang lain.

Di Jepang sendiri, keberadaan Otaku sebenarnya sudah membuat "bencana". Naiknya jumlah otaku membuat produktifitas hidup menurun, keakraban sosial berkurang, dan jumlah pertumbuhan penduduk Jepang mengkhawatirkan. 

Tapi di Indonesia, karena akses info yang sepihak saja, membuat "gelar" Otaku seperti sesuatu yang membanggakan. Padahal di negara asalnya sebutan Otaku justru terpinggirkan. Janganlah bangga menyebut diri kalian seorang Otaku. Cukup jadi Fans Anime, atau Fans Manga, atau Fans Video Game. Gitu aja!!! Berikut adalah 7 Alasan Kuat Untuk Tidak Menjadi Otaku:

Gue nggak mau duit hasil kerja keras gue cuma abis buat beli barang-barang beginian.
Mending buat nraktir makan keluarga.
Gue nggak mau jilatin gambar di layar monitor.
Ada sesuatu yang lebih penting yang butuh gue jilat.
Gue nggak mau bercinta dengan guling.
Ada wanita cantik di luar sana yang butuh gue nikahin.
Gue nggak pingin sujud menyembah gambar.
Gue punya Tuhan yang lebih pantas untuk gue bersujud
Gue nggak mau seharian ngurung diri di kamar liat anime atau maen game
Gue butuh ngumpul ma teman, gokil-gokilan,  jalan-jalan, ngecengin cewek.
Gue nggak mau ribut sama temen cuma gara-gara
menyebut Pantsu itu sama dengan celana dalam.
Gue nggak mau nge-date sama pacar khayalan.
Mending makan di SS bareng Alia.
So, saran gue sih. Cukup jadi fans anime, atau fans manga, atau fans video game. Nggak usah lah sok-sokan jadi Otaku. Kasihan orang tua lu!!!

Anak-anak Indonesia saat ini sedang latah dalam mengikuti trend sosial. Ya, ini tidak bisa dihindari karena memang merupakan metamorfosa kehidupan. Begitu cepatnya perkembangan teknologi, laju informasi yang tak terbendung, kebebasan yang kebablasan, dan belum siapnya fondasi mental pendidikan kita membuat "latah" menjadi sesuatu yang terlihat lumrah.

Keberadaan gadget dan internet yang begitu canggih, membuat generasi saat ini menitipkan otak mereka ke gadget dan google. Males mikir, males mengingat dikit-dikit pake gadget. Ngitung 6 x 7 aja pake kalkulator. Nyari ibukota Amerika saja harus ketik di Google. Parah...

Karena otak mereka sudah dititipin di gadget dan google, mereka jadi tidak terbiasa berpikir. Pokoknya yang ditemukan di Google itu yang benar. Makanya begitu mereka menemukan informasi yang bersumbu pada satu sudut pandang seorang blogger yang Otaku akut, mereka juga tertular jadi Otaku akut lantaran mereka tidak mencoba mencari sumber info yang lain.

Di Jepang sendiri, keberadaan Otaku sebenarnya sudah membuat "bencana". Naiknya jumlah otaku membuat produktifitas hidup menurun, keakraban sosial berkurang, dan jumlah pertumbuhan penduduk Jepang mengkhawatirkan. 

Tapi di Indonesia, karena akses info yang sepihak saja, membuat "gelar" Otaku seperti sesuatu yang membanggakan. Padahal di negara asalnya sebutan Otaku justru terpinggirkan. Janganlah bangga menyebut diri kalian seorang Otaku. Cukup jadi Fans Anime, atau Fans Manga, atau Fans Video Game. Gitu aja!!! Berikut adalah 7 Alasan Kuat Untuk Tidak Menjadi Otaku:

Gue nggak mau duit hasil kerja keras gue cuma abis buat beli barang-barang beginian.
Mending buat nraktir makan keluarga.
Gue nggak mau jilatin gambar di layar monitor.
Ada sesuatu yang lebih penting yang butuh gue jilat.
Gue nggak mau bercinta dengan guling.
Ada wanita cantik di luar sana yang butuh gue nikahin.
Gue nggak pingin sujud menyembah gambar.
Gue punya Tuhan yang lebih pantas untuk gue bersujud
Gue nggak mau seharian ngurung diri di kamar liat anime atau maen game
Gue butuh ngumpul ma teman, gokil-gokilan,  jalan-jalan, ngecengin cewek.
Gue nggak mau ribut sama temen cuma gara-gara
menyebut Pantsu itu sama dengan celana dalam.
Gue nggak mau nge-date sama pacar khayalan.
Mending makan di SS bareng Alia.
So, saran gue sih. Cukup jadi fans anime, atau fans manga, atau fans video game. Nggak usah lah sok-sokan jadi Otaku. Kasihan orang tua lu!!!

Star Wars: Jedi Knight - Jedi Academy (PC)

Star Wars Jedi Academy menu screen
Developer:Raven|Release Date:2003|Systems:Windows, Xbox, Mac

This week on Super Adventures I'm talking about Star Wars! I saw everyone else doing it and I felt left out. If you're reading this in five years time, then I'm talking about everyone going crazy over the release of 'The Force Awakens' last week. I know it's weird to think back to 2015, when people were enthusiastic about Star Wars movies again and the series hadn't been utterly driven into the ground by a succession of annual sequels, but that's where I'm at right now.

But I'm not talking about a film, I'd need some kind of Super Adventures in Sci-Fi website for that... no I'm talking about Star Wars™: Jedi Knight™ - Jedi Academy™! I'd make a joke about it being Star Wars: Dark Forces 4: Jedi Knight 3: Jedi Outcast 2 - Jedi Academy, but for once they've resisted sticking a number in there and making things more confusing than they have to be.

Jedi Academy is the last game in this prestigious sci-fi shooter series, but to be honest it's always felt more like a stand alone expansion pack to me, like Mysteries of the Sith was to Jedi Knight. Honestly I doubt I'll be able to say much about I didn't already say in my Jedi Outcast article a few months back, but it's Christmas so I thought I'd treat myself!

WARNING: CONTAINS NO SPOILERS FOR THE FORCE AWAKENS.
Read on »

Star Wars Jedi Academy menu screen
Developer:Raven|Release Date:2003|Systems:Windows, Xbox, Mac

This week on Super Adventures I'm talking about Star Wars! I saw everyone else doing it and I felt left out. If you're reading this in five years time, then I'm talking about everyone going crazy over the release of 'The Force Awakens' last week. I know it's weird to think back to 2015, when people were enthusiastic about Star Wars movies again and the series hadn't been utterly driven into the ground by a succession of annual sequels, but that's where I'm at right now.

But I'm not talking about a film, I'd need some kind of Super Adventures in Sci-Fi website for that... no I'm talking about Star Wars™: Jedi Knight™ - Jedi Academy™! I'd make a joke about it being Star Wars: Dark Forces 4: Jedi Knight 3: Jedi Outcast 2 - Jedi Academy, but for once they've resisted sticking a number in there and making things more confusing than they have to be.

Jedi Academy is the last game in this prestigious sci-fi shooter series, but to be honest it's always felt more like a stand alone expansion pack to me, like Mysteries of the Sith was to Jedi Knight. Honestly I doubt I'll be able to say much about I didn't already say in my Jedi Outcast article a few months back, but it's Christmas so I thought I'd treat myself!

WARNING: CONTAINS NO SPOILERS FOR THE FORCE AWAKENS.
Read on »

Star Wars Jedi Academy menu screen
Developer:Raven|Release Date:2003|Systems:Windows, Xbox, Mac

This week on Super Adventures I'm talking about Star Wars! I saw everyone else doing it and I felt left out. If you're reading this in five years time, then I'm talking about everyone going crazy over the release of 'The Force Awakens' last week. I know it's weird to think back to 2015, when people were enthusiastic about Star Wars movies again and the series hadn't been utterly driven into the ground by a succession of annual sequels, but that's where I'm at right now.

But I'm not talking about a film, I'd need some kind of Super Adventures in Sci-Fi website for that... no I'm talking about Star Wars™: Jedi Knight™ - Jedi Academy™! I'd make a joke about it being Star Wars: Dark Forces 4: Jedi Knight 3: Jedi Outcast 2 - Jedi Academy, but for once they've resisted sticking a number in there and making things more confusing than they have to be.

Jedi Academy is the last game in this prestigious sci-fi shooter series, but to be honest it's always felt more like a stand alone expansion pack to me, like Mysteries of the Sith was to Jedi Knight. Honestly I doubt I'll be able to say much about I didn't already say in my Jedi Outcast article a few months back, but it's Christmas so I thought I'd treat myself!

WARNING: CONTAINS NO SPOILERS FOR THE FORCE AWAKENS.
Read on »

Star Wars Jedi Academy menu screen
Developer:Raven|Release Date:2003|Systems:Windows, Xbox, Mac

This week on Super Adventures I'm talking about Star Wars! I saw everyone else doing it and I felt left out. If you're reading this in five years time, then I'm talking about everyone going crazy over the release of 'The Force Awakens' last week. I know it's weird to think back to 2015, when people were enthusiastic about Star Wars movies again and the series hadn't been utterly driven into the ground by a succession of annual sequels, but that's where I'm at right now.

But I'm not talking about a film, I'd need some kind of Super Adventures in Sci-Fi website for that... no I'm talking about Star Wars™: Jedi Knight™ - Jedi Academy™! I'd make a joke about it being Star Wars: Dark Forces 4: Jedi Knight 3: Jedi Outcast 2 - Jedi Academy, but for once they've resisted sticking a number in there and making things more confusing than they have to be.

Jedi Academy is the last game in this prestigious sci-fi shooter series, but to be honest it's always felt more like a stand alone expansion pack to me, like Mysteries of the Sith was to Jedi Knight. Honestly I doubt I'll be able to say much about I didn't already say in my Jedi Outcast article a few months back, but it's Christmas so I thought I'd treat myself!

WARNING: CONTAINS NO SPOILERS FOR THE FORCE AWAKENS.
Read on »

Star Wars Jedi Academy menu screen
Developer:Raven|Release Date:2003|Systems:Windows, Xbox, Mac

This week on Super Adventures I'm talking about Star Wars! I saw everyone else doing it and I felt left out. If you're reading this in five years time, then I'm talking about everyone going crazy over the release of 'The Force Awakens' last week. I know it's weird to think back to 2015, when people were enthusiastic about Star Wars movies again and the series hadn't been utterly driven into the ground by a succession of annual sequels, but that's where I'm at right now.

But I'm not talking about a film, I'd need some kind of Super Adventures in Sci-Fi website for that... no I'm talking about Star Wars™: Jedi Knight™ - Jedi Academy™! I'd make a joke about it being Star Wars: Dark Forces 4: Jedi Knight 3: Jedi Outcast 2 - Jedi Academy, but for once they've resisted sticking a number in there and making things more confusing than they have to be.

Jedi Academy is the last game in this prestigious sci-fi shooter series, but to be honest it's always felt more like a stand alone expansion pack to me, like Mysteries of the Sith was to Jedi Knight. Honestly I doubt I'll be able to say much about I didn't already say in my Jedi Outcast article a few months back, but it's Christmas so I thought I'd treat myself!

WARNING: CONTAINS NO SPOILERS FOR THE FORCE AWAKENS.
Read on »

Bagaimana Hiyori bisa tahu nama asli Yato? [NORAGAMI]

Dalam Anime Noragami Aragoto episode 12 dikisahkan bahwa Bishamonten masuk ke dalam Yomi  (dunia bawah) untuk menyelamatkan Dewa Yato. Namun siapa sangka ternyata penguasa Yomi, Izanami, sangatlah kuat. Hampir mustahil untuk dapat keluar dari Yomi hidup-hidup.
Bagaimana Hiyori bisa tahu nama asli Yato?

Sementara itu di permukaan Bumi, Ebisu bersama dengan Kofuku, Hiyori, dan lainnya sedang mencari cara untuk mengeluarkan Yato dan Bishamonten. Menurut Ebisu terdapat cara lain untuk mengeluarkan Yato dan Bishamonten yang terperangkap di dalam Yomi yaitu dengan memanggil namanya.

Namun hanya manusia yang berada di tepian batas antara dunia manusia dengan dunia baka yang dapat melakukannnya. Dengan kata lain Hiyori dapat melakukannya.

Hiyori pun segera memanggil nama "Bishamonten" di tepian lubang neraka. Hasilnya Bishamon tiba-tiba muncul. Namun saat Hiyori memanggil nama "Yato", Yato tidak juga muncul-muncul. Menurut Ebisu untuk dapat memanggil jiwa dari Yomi, dia harus dipanggil dengan nama aslinya. Karena Yato tidak muncul, itu artinya "Yato" bukanlah nama asli.

Sayangnya, tidak ada satupun yang tahu nama asli Yato. Meski begitu, Hiyori tidak mau menyerah, dia terus memanggil nama Yato di tepian lubang angin. Hingga tiba-tiba dia teringat tulisan nama di pintu kuil kecil yang dibuatnya untuk Yato.


Kemudian Hiyori berpikir bahwa mungkin tulisan itu bisa dibaca dengan cara lain. Karena jika tulisan di kuil tersebut salah, bukan nama asli Yato, tentu Yato tidak akan segembira itu. Hingga akhirnya bacaannya menjadi "Yaboku." Dan ternyata benar, nama asli Yato adalah Yaboku. Akhirnya Yato bisa dikeluarkan dari dalam Yomi.

Seperti yang kita tahu, Orang Jepang menulis dengan menggunakan 4 jenis huruf, yaitu Hiragana, Katakana, Kanji, dan Romaji. Kemungkinan, Hiyori menulis nama Yato di kuil tersebut menggunakan huruf Romaji. Namun kemudian Hiyori mencoba berpikir untuk membacanya sebagai huruf Kanji yang terlihat sangat mirip dengan tulisan tersebut.

Nah Hiyori membaca tulisan " 夜 " sebagai huruf Kanji yang berbunyi "Ya" dan membaca tulisan Romaji " ト " sebagai huruf Kanji yang berbunyi "Boku" karena ada huruf kanji yang sangat mirip dengan tulisan tersebut yang dibaca "Boku".

Hmm, karena saya bukan orang sastra Jepang, jadi mungkin ada sedikit kesalahan dalam penjelasan saya di atas. Namun intinya begitu, tulisan "Yato" tersebut di atas jika dibaca dengan cara lain bunyinya jadi "Yaboku." ^_^

Dalam Anime Noragami Aragoto episode 12 dikisahkan bahwa Bishamonten masuk ke dalam Yomi  (dunia bawah) untuk menyelamatkan Dewa Yato. Namun siapa sangka ternyata penguasa Yomi, Izanami, sangatlah kuat. Hampir mustahil untuk dapat keluar dari Yomi hidup-hidup.
Bagaimana Hiyori bisa tahu nama asli Yato?

Sementara itu di permukaan Bumi, Ebisu bersama dengan Kofuku, Hiyori, dan lainnya sedang mencari cara untuk mengeluarkan Yato dan Bishamonten. Menurut Ebisu terdapat cara lain untuk mengeluarkan Yato dan Bishamonten yang terperangkap di dalam Yomi yaitu dengan memanggil namanya.

Namun hanya manusia yang berada di tepian batas antara dunia manusia dengan dunia baka yang dapat melakukannnya. Dengan kata lain Hiyori dapat melakukannya.

Hiyori pun segera memanggil nama "Bishamonten" di tepian lubang neraka. Hasilnya Bishamon tiba-tiba muncul. Namun saat Hiyori memanggil nama "Yato", Yato tidak juga muncul-muncul. Menurut Ebisu untuk dapat memanggil jiwa dari Yomi, dia harus dipanggil dengan nama aslinya. Karena Yato tidak muncul, itu artinya "Yato" bukanlah nama asli.

Sayangnya, tidak ada satupun yang tahu nama asli Yato. Meski begitu, Hiyori tidak mau menyerah, dia terus memanggil nama Yato di tepian lubang angin. Hingga tiba-tiba dia teringat tulisan nama di pintu kuil kecil yang dibuatnya untuk Yato.


Kemudian Hiyori berpikir bahwa mungkin tulisan itu bisa dibaca dengan cara lain. Karena jika tulisan di kuil tersebut salah, bukan nama asli Yato, tentu Yato tidak akan segembira itu. Hingga akhirnya bacaannya menjadi "Yaboku." Dan ternyata benar, nama asli Yato adalah Yaboku. Akhirnya Yato bisa dikeluarkan dari dalam Yomi.

Seperti yang kita tahu, Orang Jepang menulis dengan menggunakan 4 jenis huruf, yaitu Hiragana, Katakana, Kanji, dan Romaji. Kemungkinan, Hiyori menulis nama Yato di kuil tersebut menggunakan huruf Romaji. Namun kemudian Hiyori mencoba berpikir untuk membacanya sebagai huruf Kanji yang terlihat sangat mirip dengan tulisan tersebut.

Nah Hiyori membaca tulisan " 夜 " sebagai huruf Kanji yang berbunyi "Ya" dan membaca tulisan Romaji " ト " sebagai huruf Kanji yang berbunyi "Boku" karena ada huruf kanji yang sangat mirip dengan tulisan tersebut yang dibaca "Boku".

Hmm, karena saya bukan orang sastra Jepang, jadi mungkin ada sedikit kesalahan dalam penjelasan saya di atas. Namun intinya begitu, tulisan "Yato" tersebut di atas jika dibaca dengan cara lain bunyinya jadi "Yaboku." ^_^

Dalam Anime Noragami Aragoto episode 12 dikisahkan bahwa Bishamonten masuk ke dalam Yomi  (dunia bawah) untuk menyelamatkan Dewa Yato. Namun siapa sangka ternyata penguasa Yomi, Izanami, sangatlah kuat. Hampir mustahil untuk dapat keluar dari Yomi hidup-hidup.
Bagaimana Hiyori bisa tahu nama asli Yato?

Sementara itu di permukaan Bumi, Ebisu bersama dengan Kofuku, Hiyori, dan lainnya sedang mencari cara untuk mengeluarkan Yato dan Bishamonten. Menurut Ebisu terdapat cara lain untuk mengeluarkan Yato dan Bishamonten yang terperangkap di dalam Yomi yaitu dengan memanggil namanya.

Namun hanya manusia yang berada di tepian batas antara dunia manusia dengan dunia baka yang dapat melakukannnya. Dengan kata lain Hiyori dapat melakukannya.

Hiyori pun segera memanggil nama "Bishamonten" di tepian lubang neraka. Hasilnya Bishamon tiba-tiba muncul. Namun saat Hiyori memanggil nama "Yato", Yato tidak juga muncul-muncul. Menurut Ebisu untuk dapat memanggil jiwa dari Yomi, dia harus dipanggil dengan nama aslinya. Karena Yato tidak muncul, itu artinya "Yato" bukanlah nama asli.

Sayangnya, tidak ada satupun yang tahu nama asli Yato. Meski begitu, Hiyori tidak mau menyerah, dia terus memanggil nama Yato di tepian lubang angin. Hingga tiba-tiba dia teringat tulisan nama di pintu kuil kecil yang dibuatnya untuk Yato.


Kemudian Hiyori berpikir bahwa mungkin tulisan itu bisa dibaca dengan cara lain. Karena jika tulisan di kuil tersebut salah, bukan nama asli Yato, tentu Yato tidak akan segembira itu. Hingga akhirnya bacaannya menjadi "Yaboku." Dan ternyata benar, nama asli Yato adalah Yaboku. Akhirnya Yato bisa dikeluarkan dari dalam Yomi.

Seperti yang kita tahu, Orang Jepang menulis dengan menggunakan 4 jenis huruf, yaitu Hiragana, Katakana, Kanji, dan Romaji. Kemungkinan, Hiyori menulis nama Yato di kuil tersebut menggunakan huruf Romaji. Namun kemudian Hiyori mencoba berpikir untuk membacanya sebagai huruf Kanji yang terlihat sangat mirip dengan tulisan tersebut.

Nah Hiyori membaca tulisan " 夜 " sebagai huruf Kanji yang berbunyi "Ya" dan membaca tulisan Romaji " ト " sebagai huruf Kanji yang berbunyi "Boku" karena ada huruf kanji yang sangat mirip dengan tulisan tersebut yang dibaca "Boku".

Hmm, karena saya bukan orang sastra Jepang, jadi mungkin ada sedikit kesalahan dalam penjelasan saya di atas. Namun intinya begitu, tulisan "Yato" tersebut di atas jika dibaca dengan cara lain bunyinya jadi "Yaboku." ^_^

Dalam Anime Noragami Aragoto episode 12 dikisahkan bahwa Bishamonten masuk ke dalam Yomi  (dunia bawah) untuk menyelamatkan Dewa Yato. Namun siapa sangka ternyata penguasa Yomi, Izanami, sangatlah kuat. Hampir mustahil untuk dapat keluar dari Yomi hidup-hidup.
Bagaimana Hiyori bisa tahu nama asli Yato?

Sementara itu di permukaan Bumi, Ebisu bersama dengan Kofuku, Hiyori, dan lainnya sedang mencari cara untuk mengeluarkan Yato dan Bishamonten. Menurut Ebisu terdapat cara lain untuk mengeluarkan Yato dan Bishamonten yang terperangkap di dalam Yomi yaitu dengan memanggil namanya.

Namun hanya manusia yang berada di tepian batas antara dunia manusia dengan dunia baka yang dapat melakukannnya. Dengan kata lain Hiyori dapat melakukannya.

Hiyori pun segera memanggil nama "Bishamonten" di tepian lubang neraka. Hasilnya Bishamon tiba-tiba muncul. Namun saat Hiyori memanggil nama "Yato", Yato tidak juga muncul-muncul. Menurut Ebisu untuk dapat memanggil jiwa dari Yomi, dia harus dipanggil dengan nama aslinya. Karena Yato tidak muncul, itu artinya "Yato" bukanlah nama asli.

Sayangnya, tidak ada satupun yang tahu nama asli Yato. Meski begitu, Hiyori tidak mau menyerah, dia terus memanggil nama Yato di tepian lubang angin. Hingga tiba-tiba dia teringat tulisan nama di pintu kuil kecil yang dibuatnya untuk Yato.


Kemudian Hiyori berpikir bahwa mungkin tulisan itu bisa dibaca dengan cara lain. Karena jika tulisan di kuil tersebut salah, bukan nama asli Yato, tentu Yato tidak akan segembira itu. Hingga akhirnya bacaannya menjadi "Yaboku." Dan ternyata benar, nama asli Yato adalah Yaboku. Akhirnya Yato bisa dikeluarkan dari dalam Yomi.

Seperti yang kita tahu, Orang Jepang menulis dengan menggunakan 4 jenis huruf, yaitu Hiragana, Katakana, Kanji, dan Romaji. Kemungkinan, Hiyori menulis nama Yato di kuil tersebut menggunakan huruf Romaji. Namun kemudian Hiyori mencoba berpikir untuk membacanya sebagai huruf Kanji yang terlihat sangat mirip dengan tulisan tersebut.

Nah Hiyori membaca tulisan " 夜 " sebagai huruf Kanji yang berbunyi "Ya" dan membaca tulisan Romaji " ト " sebagai huruf Kanji yang berbunyi "Boku" karena ada huruf kanji yang sangat mirip dengan tulisan tersebut yang dibaca "Boku".

Hmm, karena saya bukan orang sastra Jepang, jadi mungkin ada sedikit kesalahan dalam penjelasan saya di atas. Namun intinya begitu, tulisan "Yato" tersebut di atas jika dibaca dengan cara lain bunyinya jadi "Yaboku." ^_^

Dalam Anime Noragami Aragoto episode 12 dikisahkan bahwa Bishamonten masuk ke dalam Yomi  (dunia bawah) untuk menyelamatkan Dewa Yato. Namun siapa sangka ternyata penguasa Yomi, Izanami, sangatlah kuat. Hampir mustahil untuk dapat keluar dari Yomi hidup-hidup.
Bagaimana Hiyori bisa tahu nama asli Yato?

Sementara itu di permukaan Bumi, Ebisu bersama dengan Kofuku, Hiyori, dan lainnya sedang mencari cara untuk mengeluarkan Yato dan Bishamonten. Menurut Ebisu terdapat cara lain untuk mengeluarkan Yato dan Bishamonten yang terperangkap di dalam Yomi yaitu dengan memanggil namanya.

Namun hanya manusia yang berada di tepian batas antara dunia manusia dengan dunia baka yang dapat melakukannnya. Dengan kata lain Hiyori dapat melakukannya.

Hiyori pun segera memanggil nama "Bishamonten" di tepian lubang neraka. Hasilnya Bishamon tiba-tiba muncul. Namun saat Hiyori memanggil nama "Yato", Yato tidak juga muncul-muncul. Menurut Ebisu untuk dapat memanggil jiwa dari Yomi, dia harus dipanggil dengan nama aslinya. Karena Yato tidak muncul, itu artinya "Yato" bukanlah nama asli.

Sayangnya, tidak ada satupun yang tahu nama asli Yato. Meski begitu, Hiyori tidak mau menyerah, dia terus memanggil nama Yato di tepian lubang angin. Hingga tiba-tiba dia teringat tulisan nama di pintu kuil kecil yang dibuatnya untuk Yato.


Kemudian Hiyori berpikir bahwa mungkin tulisan itu bisa dibaca dengan cara lain. Karena jika tulisan di kuil tersebut salah, bukan nama asli Yato, tentu Yato tidak akan segembira itu. Hingga akhirnya bacaannya menjadi "Yaboku." Dan ternyata benar, nama asli Yato adalah Yaboku. Akhirnya Yato bisa dikeluarkan dari dalam Yomi.

Seperti yang kita tahu, Orang Jepang menulis dengan menggunakan 4 jenis huruf, yaitu Hiragana, Katakana, Kanji, dan Romaji. Kemungkinan, Hiyori menulis nama Yato di kuil tersebut menggunakan huruf Romaji. Namun kemudian Hiyori mencoba berpikir untuk membacanya sebagai huruf Kanji yang terlihat sangat mirip dengan tulisan tersebut.

Nah Hiyori membaca tulisan " 夜 " sebagai huruf Kanji yang berbunyi "Ya" dan membaca tulisan Romaji " ト " sebagai huruf Kanji yang berbunyi "Boku" karena ada huruf kanji yang sangat mirip dengan tulisan tersebut yang dibaca "Boku".

Hmm, karena saya bukan orang sastra Jepang, jadi mungkin ada sedikit kesalahan dalam penjelasan saya di atas. Namun intinya begitu, tulisan "Yato" tersebut di atas jika dibaca dengan cara lain bunyinya jadi "Yaboku." ^_^